Sejak 28 Februari 2026, Selat Hormuz — jalur sempit yang mengalirkan hampir 20% pasokan minyak dunia — ditutup akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam hitungan hari, harga minyak mentah Brent melonjak dari $65 menembus $100 hingga $119 per barel. Dampaknya langsung terasa di Indonesia: harga BBM komersial naik, rupiah tertekan, dan tekanan kenaikan tarif listrik tinggal menunggu waktu.
Di tengah krisis yang tidak ada kepastian kapan berakhir, satu pertanyaan menjadi sangat relevan: mengapa kita masih membayar mahal untuk memanaskan air, padahal matahari bersinar gratis setiap hari?
Pemanas air listrik konvensional adalah salah satu perangkat dengan konsumsi energi tertinggi di rumah dan bisnis. Di tengah krisis energi global seperti sekarang — ketika setiap kenaikan $1 per barel harga minyak berpotensi menambah beban subsidi energi nasional hingga Rp6,8 triliun — ketergantungan pada energi berbahan fosil untuk memanaskan air adalah pemborosan yang tidak bisa lagi diabaikan.
Solahart Solar Water Heater hadir mengubah logika itu secara fundamental: gunakan energi matahari yang gratis dan tidak terbatas untuk memenuhi kebutuhan air panas — di rumah, hotel, rumah sakit, industri, hingga fasilitas publik.
Solahart bukan produk baru yang lahir dari kepanikan krisis. Merek asal Australia ini telah memimpin industri solar water heater dunia selama lebih dari 70 tahun, dipercaya di lebih dari 70 negara, dan hadir di Indonesia sejak 1982. Standar kualitas internasional dan sertifikasi ISO di Indonesia yang menjamin setiap unit bekerja optimal dalam kondisi apapun untuk kebutuhan Anda temukan produk di solahart.co.id.